Jum’at, 27 November 2009
Itu
adalah saat dimana kaum muslimin merayakan Hari Raya Idul Adha. Sementara ini
adalah kali pertama bagiku merayakan hari raya kurban di sekolah. Kami –
seluruh warga SMP 5 Kudus diharuskan menjalankan ibadah shalat Id serta
pembagian binatang kurban di sekolah.
Shalatnya
sendiri di lakukan sekitar pukul enam pagi. Sementara pembagian hewan kurbannya
di adakan saat mendekati siang. Sehingga kami di perbolehkan pulang dahulu
setelah shalat Id.
Barulah
sekitar pukul 11.00 siang, aku berangkat kembali ke sekolah dengan di antar
oleh ayah. Sebenarnya aku malas untuk datang kembali ke sekolah. Pasalnya kala
itu, aku tengah melakukan rutinitas Idul Adha, yakni membuat hidangan khas hari
raya kurban. Sungguh itu adalah hal yang menyenangkan.
Tapi
aku tetap berangkat ke sekolah. Setelah kupikir-pikir, lumayan juga bisa
mendapatkan daging tambahan, hitung-hitung untuk dijadikan sate.
Namun
ada yang terlupa. Sepatu cantik kesayanganku yang sudah kupakai kurang lebih
satu tahun lamanya ini sudah harus di LEM BIRU (lempar beli yang baru). Tapi
aku tak begitu memerdulikannya, sebab aku terlalu sayang dengan sepatu ini.
Terserah orang mau bilang sepatu KW 3 atau bahkan sepatu ini mulai kekecilan
untukku. Yang aku tahu sepatu ini modelnya cantik dan aku menyukainya.
Dan
ketika motor yang membawa ayah dan aku tiba di sekolah, tiba-tiba sepatu yang
kukenakan lemnya mengelupas. Lalu bagian bawahnya mulai terlepas dengan bagian
atasnya. Astaga, apa aku harus nyeker
ke sekolah?
Aku
kesal, kesal sekali. Sepatu kesayangan yang selama ini kupakai kemanapun kaki
ini melangkah harus ku tinggalkan begitu saja disini. Sebenarnya ingin ku pungut
dan ku bawa pulang saking sayangnya
aku pada sepatuku. Tapi keadaannya tidak memungkinkan. Saat itu sudah banyak
anak yang dating. Dan biarpun mereka tak terlalu memerhatikan, tetap saja aku
malu.
Aku
ingin pulang. Namun ayah menawariku alternative
lain. Ia meminjamkan sandal jepit miliknya untukku. Baiklah, dengan langkah
percaya diri, aku pun buru-buru masuk ke dalam kelas. Alhasil tak banyak orang
yang mengira jika saat itu aku sedang memakai sandal jepit. Setidaknya kadar
maluku sedikit berkurang.

