Kamis, 26 Januari 2012

♦ tulisan saya ♦

sebelumnya jangan menyesal kalo tulisan ini jelek, saya hanya coba-coba.

so, readers..saya persembahkan REINKARNASI,,,

Ada yang salah dengan diriku. Hanya penyakit flu biasa yang sering kualami selama menghirup udara dialam fana ini, yakni flu disertai batuk. Puskesmas telah kukunjungi, berbagai obat di apotik telah kuminim dan aku juga sempat diajak ortu berobat ke dokter. Tapi semua itu terkesan percuma ketika hingga seminggu terpaksa memboloskan diri dari sekolah dengan alasan sakit.
Namaku Dina Astina, seorang gadis remaja berusia 15 tahun yang tengah duduk di bangku kelas 2 pada sebuah sekolah kejuruan di kota kretek, Kudus. Kuakui aku sering sakit-sakitan. Untunglah ada suplemen yang bisa kuminum untuk mencegah datangnya penyakit yang tak kuinginkan. Tapi gara-gara itu aku jadi bisa merasakan berbagai macam obat, dari yang mulai manis, seperti permen hingga yang amit-amit pahitnya. Juga mulai yang gratisan (produk puskesmas), hingga yang harganya puluhan ribu. Setidaknya setiap penyakit yang kuderita hanya penyakit standard yang tak perlu mengeluarkan banyak biaya, orangtuaku mungkin tak sanggup membiayainya. Tuhan memang adil.
Meski begitu tak ada niatan orangtuaku untuk membawaku ke rumah sakit. Aku pun tak sudi membaringkan tubuh di atas tempat tidur berwarna putih yang muat dipakai 1 orang saja. Sudah begitu biayanya mahal pula. Mending digunakan untuk jalan-jalan atau sekedar makan-makan.
Teman sekelas juga sempat menjenguk di rumah. Mereka terlihat khawatir dengan keadaanku. Tapi begitu tiba di rumah, mereka terkejut melihatku. Dari luar aku tak terlihat seperti orang berpenyakitan. Aku masih ceria, selalu tersenyum dan nyambung diajak ngomong. Halnya saja sekarang ini suaraku rada seksi seperti Mulan Jamilah. Sayangnya tak ada produser musik yang menawariku rekaman di dapurnya. Tapi tak apalah cita-citaku juga bukan menjadi penyanyi.
Kembali ke cerita, teman-teman bahkan mengulangi pertanyaannya untuk memastikan apakah aku benar-benar sakit atau bolosku merupakan alibi akan sesuatu hal. Meskipun lelah, aku terus memberikan jawaban pada mereka. Coba mereka bertukar tubuh denganku, mereka pasti tahu seperti apa sakit yang kuderita. Kepala rasanya mau pecah, sekujur tubuh rasanya panas padahal bila disentuh orang dingin, tubuhku juga terasa lemas, belum lagi rasa gatal di tenggorokan yang super duper mengganggu.
Tapi aku tak mau terus menyesali musibah yang tuhan berikan. Lagipula aku pernah mendengar dari sebuah sumber bahwa musibah yang menimpa kita menunjukkan kalau tuhan sayang pada kita. Berhubung tuhan sayang, makanya aku mau menikmati musibah ini. Buktinya dengan sakit aku jadi bisa merasakan banyak makanan yang kalau pada hari biasa harus mengemis kepada orangtua. Selain itu aku juga bisa mengistirahatkan diri dari rutinitas sehari-hari, seperti tugas sekolah dan kewajiban di rumah, meskipun aku bukan tipikal orang yang senantiasa membantu orangtuanya.
Hingga akhirnya di suatu malam, aku berkeringat dingin. Tubuhku mengginggil. Bahkan aku sempat mengigo tanpa kusadari. Ini membuat keluargaku panik. Mereka segera terjaga dari tidurnya, termasuk kakakku yang biasanya cerewet kalau ada yang mengganggu tidurnya.
Hal ini membuiat ayah tak punya pilihan selain memanggilkan petugas medis. Meskipun untuk waktu yang lama, akhirnya seorang dokter mengunjungi rumahku. Berkat itu pula keluarga besar dan tetangga yang bermukim di sekitar tempat tinggalku ikut terbangun dan beranjak memonton keadaan mengenaskan yang kualami sekarang.
Namun diantara mereka tak semuanya menonton saja, ada beberapa yang membantu entah dalam hal apa. Sementara ibu tak mau melepaskan tangannnya dariku. Ia terus saja menangis hingga air matanya membasahi tubuhku. Ayah dan kakak  juga berada disampingku. Mereka turut sedihm tapi tak sesedih ibu.
Saat sang dokter wanita yang di pangggil ayah tiba di kamarku, ia segera membongkar alat tempurnya yang tersimpan rapi dalam tas kerja. Ia mengeluarkan jarum suntik, lalu menakar campurannya. Setelah itu jarum suntik pun tertusuk di tanganku. Meski sakit, aku tidak memberontak. Tapi ada semacam perasaan yang membuatku mengantuk setelahnya.
Hari telah pagi dan matahari mulai menyengatkan panasnya ke muka bumi. Bila dilihat dari frekuensi pemunculannya, sepertinya hari ini sekitar pukul 7.
Aku berada di luar rumah. Tak lama kusadari rumahku telah diramaikan oleh orang-orang yang jumlahnya tidak sedikit. Kebanyakan diantaranya adalah keluarga, kerabat dan para tetangga. Aku heran, ada hajat apa di rumahku? Perasaan orangtuaku tidak pernah menyinggung kalau dalam waktu dekat ini ada sesuatu yang akan dirayakan.
Tapi aku tak mau beerpusing-pusing ria memikirkan apa yang tidak kuketahui. Siapa tahu ini kejutan untukku. Lalu aku berjalan-jalan di sekitar rumah. Kebanyakan dari mereka telah disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Ada yang memasang tratak, menata kursi dan meja untuk para tamu, memasak makanan, juga ada yang menyiapkan air berisi bunga-bunga. Kalau tidak salah, ini pasti hajat perkawinan. Tapi masalahnya siapa yang mau menikah? Kalau aku jelas tidak mungkin, tapi kakak? Setahuku ia tak pernah serius menjalin hubungan.
Sebelum aku tambah bingung, aku mendengar rintihan tangis orang-orang. Awalnya pelan tapi lama kelamaan makin keras. Dan aku makin bingung kala melihat batu nisan, payung dan tempat pembawa orang mati. Di daerahku jika ada orang mati memang jarang mengibarkan bendera kuning, sehingga aku baru bisa menyimpulkan kalau di rumahku tidak sedang menggelar hajat, tetapi hendak melayat orang mati.
Seapa yang mati? Kenapa aku tidak tahu? Ini rumahku, berarti salah seorang anggota keluargaku ada yang berpulang di sisi tuhan. Sontak, air matapun segera menetes dari kedua pelupuk mata. Secepat mungkin aku mencoba berlari ke dalam rumah untuk mencari tahu hal yang tidak kuketahui ini, seraya berharap bahwa semua anggota keluargaku dalam keadaan baik.
Di ruang tamu aku melihat sesosok mayat yang tengah berbaring dengan berselimutkan kain, sehingga aku tak bisa mengenalinya. Disana ada kakakku yang mengenakan mukena berwarna hitam. Matanya sembap, mungkin karena terlalu banyak menangis. Ia hanya duduk diam seolah sangat terpukul atas kepergian sesosok mayat misterius itu.
Kemudian dari dalam ibuku keluar dengan ditemani oleh kedua tanteku. Ia berteriak-teriak histeris seakan tak bisa menerima apa yang telah digariskan oleh tuhan. Hal ini membuat kedua tanteku kelabakan akan ulahnya. Hingga akhirnya ibu pingsan. Aku pikir ini bukan pertama kalinya ia pingsan. Aku miris sekali melihatnya. Kenapa disaat seperti ini aku malah tak tahu apa-apa? Segera aku menutup mulut dan menangis seorang diri.
Tak lama aku pun tersadar, kalau kakak dan ibuku masih hidup, berarti ayahku?. Aku panik. Segera kulangkahkan kaki keluar dari rumah untuk mencari ayah, besar harapan aku bisa menemukannya. Dan doaku dikabulkan oleh tuhan. Meski dari kejauhan, aku melihat ayah tengah membantu pemasang tratak, matanya tampak sembap. Namun hal ini membuatku tersenyum. Aku segera mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi.
Aku lega mengetahui bahwa bukan keluargaku yang dipanggil sang mahakuasa. Mungkin salah satu anggota keluarga besarku. Rumah kita memang berdekatan, sehingga bisa saja mereka meletakkan mayatnya di rumahku. Tapi aku tak bisa bersenang-senang ria, biar bagaimana ada keluargaku yang meninggal. Aku harus masuk ke dalam untuk memastikannya.
Saat perjalanan masuk ke rumah aku tak sengaja melihat seseorang yang membuka bungkusan batu nisan. Dan aku segera menghentikan langkah begitu mengetahui namaku terpampang disana. Lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal kematian. Aku tak percaya, tanggal kematianku hari kematin. Tanpa kuperintah, otakku segera memutar memori kejadian yang terjadi sehari yang lalu. Hal terakhir yang kuingat adalah aku tak sadarkan diri setelah sebuah jarum suntik tertusuk di tangan kananku.
Aku menggeleng-gelengkan kepala mengungkapkan ketidakpercayaanku. Aku tak bisa menangis, tak bisa mengucapkan sepatah katapun, semua yang ada dalam diriku seolah berhenti. Aku bahkan tak bisa merasakan detakan jantungku. Tapi sedikitpun aku tak sudi menanyakan pada otak apakah aku sudah mati atau tidak. Dan entah untuk berapa lama aku terdiam bagai patung.
Kalau bisa aku ingin menghilang dari semua ini. Aku tak peduli sudah mati atau tidak. Setidaknya itu masih lebih baik daripada berada di rumah dukaku sendiri. Mungkin aku tak akan sanggup. Hingga tanpa terasa, tetesan demi tetesan air mata membanjiri wajahku.
Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja. Aku yakin aku belum mati. Bahkan aku merasa sekarang telah sehat dan sembuh dari sakita yang kuderita. Oleh karenanya aku memberanikan diri bertanya pada tetangga yang berlalu lalang di sekitar rumah.
“e…tante, siapa yang mati?” tanyaku pada tetangga.
Namun itu percuma. Orang yang kutanya terus saja berjalan tanpa sempat menoleh kearahku. Ia bahkan bisa menembus tanganku. Aku sedih, tak percaya dengan hal yang barusan terjadi. Tapi aku tetap berusaha menanyakannya pada orang lain. Dan yang terjadi adalah sama, tak peduli ia tetangga, keluarga atau orang yang tak kukenal, mereka semua mengabaikanku seolah aku tak ada disana.
Akhirnya aku pun menyerah. Lalu aku menjauh dari kerumunan itu. Aku duduk di teras tetanggaku. Aku menangis tersedu-sedu disana. Namun tak ada yang memerdulikan. Mereeka semua sibuk dengan apa yang dikejakan. Ini sungguh tak adil. Kenapa tuhan menginginkanku kembali sekarang? Kalau engkau memang sayang padaku, setidaknya beri aku kesempatan untuk sekedar membalas jasa kedua orangtua yang selama ini telah bersusah payah membesarkan anak manja sepertiku. Kenapa engkau lakukan ini padaku, tuhan? Aku sangat menyayangi keluargaku. Aku tidak ingin melihat mereka menangis seperti ini, terlebih ibuku.
Sekitar pukul 8, rombongan teman-teman sekolah tiba di rumah. Hal ini membuat aku yang terbaring dalam balutan tangis di atas teras menjadi terbangun. Aku menghapus air mata yang mulai mengering di pipi. Aku ingin menyambut mereka, setidaknya ini adalah penghormatan terakhirku untuk mereka. Lalu aku berjalan dengan langkah lemas menuju rumah.
Seluruh teman sekelasku tak ada yang absen melawat kepergian jasadku. Selain itu anak osis, pembina osis, wali kelas dan guru jurusan Administrasi Perkantoran pun turut serta menampakkan dirinya disini. Aku melihat banyak diantar mereka yang sudah tak kuasa membendung air mata, itu juga termasuk para guru jurusan. Bisa dibilang aku dekat dengan beberapa guru jurusan. Ini membuatku ingin menangis. Tapi apa daya, air mata yang kumiliki sudah kuhabiskan tadi. Andai aku bisa berbicara dengan mereka, aku ingin meminta agar mereka berhenti menangisiku lagi.
Aku sadar kematian akan mengampiri setiap orang. Tapi ini adalah kematianku. Jadi biarkan aku saja yang menangisinya. Toh sekeras apapun ditangisi, aku tak akan kembali. Justru tangisan itu membuatku makin sedih dan berat meninggalkan duni ini. Tolong lepakanlah kepergianku dengan ikhlas, lalu tersenyum bahagialah agar aku turut bahagia bersama kalian.
Beberapa teman sekelasku bahkan ada yang histeris sehingga memaksa guru untuk menenangkan. Barulah saat air mineral masuk ke dalam tubuh, teman-teman yang tadinya histeris bisa sedikit tenang. Aku juga melihat perwakilan sekolah memberikan seserahan berupa sembako dan sejumlah uang yang tersimpan di amplop kepada perwakilan keluarga.
Aku juga baru tahu kalau sudah banyak orang yang datang melayat. Tak lupa mereka memberikan seserahan ala kadarnya sebagai bentuk bela sungkawa. Ini mengingatkanku kepada kematian kakek setahun lalu. Tapi saat itu aku masih bisa membantu menampung seserahan para tetangga.
Tak lama, tubuhku yang telah terbujur kaku dikeluarkan dari rumah untuk dimandikan. Ternyata aku juga baru tahu kalau ada seorang ustadz (kalau ditempatku disebut modin) yang telah siap memimpin semua prosesi yang diperlukan dalam rangka memperlakukan mayat.
Disana kakak dan anggota keluarga yang lain telah siap memandikan jasadku untuk yang terakhir kali. Tak tampak ibu membanru. Mungkin ia masih terpukul akan kepergian yang tiba-tiba ini. Ibuku saja masih tak percaya, bagaimana denganku? Aku benar-benar bingung dalam keadaan seperti ini.
Sungguh, aku tak sanggup melihat jasadku sendiri. Aku juga tak akan mampu melihat bagaimana terpukulnya ibu. Dan ketika aku mengahampiri teman-teman, mereka pun menangis. Aku bingung, aku harus kemana? Kenapa dimana-mana ada air mata? Aku benar-benar tidak ingin melihatnya. Aku mohon tersenyumlah, karena hanya yang kuinginkan dari kalian.
Akupun tak punya pilihan selain kembali mampir ke teras tetangga. Karena meskipun disana tak ada yang memerdulikan, tapi yang penting tidak ada tangisan. Toh aku sudah mati, jadi kemanapun melangkah, tak akan ada yang peduli.
Beberapa saat kemudian, aku melihat tubuhku diangkat kembali ke dalam rumah. Setelahnya adalah proses pengkafanan. Aku tak mau kesana dan melihat tangisan pecah dari orang-orang yang kusayang. Aku mungkin belum di neraka, tetapi tangisan mereka merupakan penyiksaan terbesar yang pernah kualami selama ini. Tuhan, kalau kau ingin mengambilku, maka ambillah dan jangan tempatkan aku pada situasi seperti ini.
Kemudian sang ustadz keluar dari rumah. Sementara para tamu sudah mulai tampak memadati rumahku. Sehingga acara lawatan secara keagamaan pun dimulai. Andai ada headset atau mp3, aku ingin menyalakannya untuk sejenak melupakan apa yang terjadi. Telingaku menolak mendengarkan kalimat-kalimat suci yang akan menggitingku ke tempat perisirahatan terakhir. Namun aku bukan penyandang tuna rungu, sehingga mau tak mau aku harus mendengarkannya.
Acara demi acara pun berlalu hingga akhirnya tibalah pada saat dimana jasadku harus meninggalkan rumah untuk selama-lamanya. Bisa kutebak selanjutnya tangisan pun pecah sudah, baik itu dari keluarga, sanak famili, kerabat, tetangga maupun teman sekolah. Sementara itu ibu telah pingsan terlebih dahulu sebelum sempat mengantarkanku untuk terakhir kalinya.
Setelah ini jasadku akan di sholati, barulah setelahnya tiba pada prosesi terakhir, yakni penguburan. Tak sedikitpun terbesit niat untukku menyaksikan prosesi itu. Begitu pula dengan ayah dan kakak. Oh ya, mereka juga sempat menangisi kepergianku dari rumah ini untuk selamanya.itu wajar, air mataku yang tadi menghilang kini pun kembali membasahi wajah.
Maafkan aku, aku belum bisa membuat kalian bangga atas kehadiranku. Ayah, ibu, maaf karena belum bisa mewujudkan impian kalian. Maaf karena sering menyusahkan. Maaf karena tak ada yang bisa kuberi atas kebaikan yang telah kalian semua lakukan. Dan maaf karena harus pergi duluan. Maaf atas semua air mata yang tumpah untuk menangisi kepergianku. Maafkan aku.
Sore harinya masih banyak pelayat yang berbondong-bondong hadir ke rumah. Tentunya mereka tetap setia mengutarakan bela sungkawanya. Dan untunglah sekarang tangis senantiasa berkurang dari rumah ini. Kakak dan ayah terlihat membantu segala tetek bengek kematianku ini. Sementara ibu sudah mulai menguasai diri sekalipun matanya tak pernah lelah mengeluarkan tetes demi tetes air mata.
Selain para tetangga dan sanak saudara, rumahku juga dikunjungi oleh tamu-tamuk. Mereka adalah alumni teman SD dan SMP, juga diantaranya sahabat-sahabatku yang belakangan ini hubungan kita merenggang. Aku menyesal mengapa kisah persahabatan kita belum baik ketika aku menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya.
Aku melihat ada kesedihan mendalam yang tampak dari paras masing-masing temanku. Maklumlah, kebanyakan dari mereka adalah orang yang dekat denganku. Mereka tak menyangka aku berpulang di usia semuda ini. Mereka juga sempat menyinggung-nyinggung kebaikan yang kuperbuat di dunia ini. Aku tersenyum mendengarnya. Ternyata mereka peduli terhadapku atau setidaknya ada sesuatu yang diingat tentangku. Karena aku tak ingin menjadi orang yang dikenala lalu dilupakan. Aku harap semoga memori tentangku senantiasa abadi. Andai saja ada yang membuatkan biografi bayangan, aku pasti akan lebih bahagia.
Dengan ini aku menyatakan untuk menjauh dari rumah duka. Setidaknya aku sudah melihat senyuman di rumah ini. Mungkin aku pernah mendengar bahwa orang mati akan tinggal di rumahnya dulu selama 40 hari. Tapi sebodo amet, itu pengecualian untukku.
Kuakui aku sangat menyayangi keluarga, sanak famili, kerabat, tetangga dan tentunya teman-temanku. Tapi jika aku masih tinggal disana selama 40 hari, batinku akan tersiksa. Rasanya mau mati tapi tak bisa, secara aku kan sudah mati. Aku sendiri juga tak tahu apakah keputusan yang kuambil ini tepat, aku masih bingung, ini hal pertama yang kualami.
Mungkin juga aku belum sepa menerima kekpergianku. Tapi apa yang bisa kuperbuat, ini adalah takdir yang telah tuhan catat semenjak aku berusia 4 bulan di kandungan ibu. Aku harus berbesar hati menerimanya, karena hanya itulah yang bisa kulakukan untuk membuatku tidak sedih lagi. Sebenarnya aku juga takut, aku sendirian. Entah apa yang terjadi nanti. Aku belum sempat memikirkannya karena terlalu sebuk menangisi kematianku.
Aku melangkah tanpa tahu akan kemana. Aku berjalan seraya memikirkan hal yang bisa kupikirkan kebanyakan adalah penyesalan yang belum sempat kuperbuat selama hidup. Sejujurnya aku adalah orang yang mempunyai semangat tinggi dan menggebu-gebu. Ini membuatku makin menyesal sebab masih banyak urusan duniawi yang belum kuraih. Kembali aku pun bersedih dan ujung-ujungnya keluarlah air dari pelupuk mata.
“bodoh, siapa bilang aku siap? Aku tak mau mati sekarang. Tuhan katanya kau sayang padaku, tapi mana? Kenapa kau mengambilku sekarang? Apa salahku? Kau senang melihat semua orang yang kusayangi menangis?” protesku dalam tangis.
Setelahnya aku tertunduk di jalanan dimana air mataku tanpa henti membanjiri wajah. Sementara orang-orang berlalu lalang melewatiku. Aku tak peduli, tak ada yang kupedulikan saat ini.
“tuhan, aku tahu aku bukan hambamu yang baik. Tapi tuhan, aku mohon dengarkanlah permintaan kecilku ini. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk menjadi hambamu, agar aku bisa membalas jasa orang-orang yang kusayangi. Hanya untuk orang yang kusayangi..ijinkan aku hidup kembali…”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar