so, readers..saya persembahkan REINKARNASI,,,
Ada
yang salah dengan diriku. Hanya penyakit flu biasa yang sering kualami selama menghirup
udara dialam fana ini, yakni flu disertai batuk. Puskesmas telah kukunjungi,
berbagai obat di apotik telah kuminim dan aku juga sempat diajak ortu berobat
ke dokter. Tapi semua itu terkesan percuma ketika hingga seminggu terpaksa
memboloskan diri dari sekolah dengan alasan sakit.
Namaku
Dina Astina, seorang gadis remaja berusia 15 tahun yang tengah duduk di bangku
kelas 2 pada sebuah sekolah kejuruan di kota kretek, Kudus. Kuakui aku sering
sakit-sakitan. Untunglah ada suplemen yang bisa kuminum untuk mencegah
datangnya penyakit yang tak kuinginkan. Tapi gara-gara itu aku jadi bisa
merasakan berbagai macam obat, dari yang mulai manis, seperti permen hingga
yang amit-amit pahitnya. Juga mulai yang gratisan (produk puskesmas), hingga
yang harganya puluhan ribu. Setidaknya setiap penyakit yang kuderita hanya
penyakit standard yang tak perlu mengeluarkan banyak biaya, orangtuaku mungkin
tak sanggup membiayainya. Tuhan memang adil.
Meski
begitu tak ada niatan orangtuaku untuk membawaku ke rumah sakit. Aku pun tak
sudi membaringkan tubuh di atas tempat tidur berwarna putih yang muat dipakai 1
orang saja. Sudah begitu biayanya mahal pula. Mending digunakan untuk
jalan-jalan atau sekedar makan-makan.
Teman
sekelas juga sempat menjenguk di rumah. Mereka terlihat khawatir dengan
keadaanku. Tapi begitu tiba di rumah, mereka terkejut melihatku. Dari luar aku
tak terlihat seperti orang berpenyakitan. Aku masih ceria, selalu tersenyum dan
nyambung diajak ngomong. Halnya saja sekarang ini suaraku rada seksi seperti
Mulan Jamilah. Sayangnya tak ada produser musik yang menawariku rekaman di
dapurnya. Tapi tak apalah cita-citaku juga bukan menjadi penyanyi.
Kembali
ke cerita, teman-teman bahkan mengulangi pertanyaannya untuk memastikan apakah
aku benar-benar sakit atau bolosku merupakan alibi akan sesuatu hal. Meskipun
lelah, aku terus memberikan jawaban pada mereka. Coba mereka bertukar tubuh
denganku, mereka pasti tahu seperti apa sakit yang kuderita. Kepala rasanya mau
pecah, sekujur tubuh rasanya panas padahal bila disentuh orang dingin, tubuhku
juga terasa lemas, belum lagi rasa gatal di tenggorokan yang super duper
mengganggu.
Tapi
aku tak mau terus menyesali musibah yang tuhan berikan. Lagipula aku pernah
mendengar dari sebuah sumber bahwa musibah yang menimpa kita menunjukkan kalau
tuhan sayang pada kita. Berhubung tuhan sayang, makanya aku mau menikmati
musibah ini. Buktinya dengan sakit aku jadi bisa merasakan banyak makanan yang
kalau pada hari biasa harus mengemis kepada orangtua. Selain itu aku juga bisa
mengistirahatkan diri dari rutinitas sehari-hari, seperti tugas sekolah dan
kewajiban di rumah, meskipun aku bukan tipikal orang yang senantiasa membantu
orangtuanya.
Hingga
akhirnya di suatu malam, aku berkeringat dingin. Tubuhku mengginggil. Bahkan
aku sempat mengigo tanpa kusadari. Ini membuat keluargaku panik. Mereka segera
terjaga dari tidurnya, termasuk kakakku yang biasanya cerewet kalau ada yang
mengganggu tidurnya.
Hal
ini membuiat ayah tak punya pilihan selain memanggilkan petugas medis. Meskipun
untuk waktu yang lama, akhirnya seorang dokter mengunjungi rumahku. Berkat itu
pula keluarga besar dan tetangga yang bermukim di sekitar tempat tinggalku ikut
terbangun dan beranjak memonton keadaan mengenaskan yang kualami sekarang.
Namun
diantara mereka tak semuanya menonton saja, ada beberapa yang membantu entah
dalam hal apa. Sementara ibu tak mau melepaskan tangannnya dariku. Ia terus
saja menangis hingga air matanya membasahi tubuhku. Ayah dan kakak juga berada disampingku. Mereka turut sedihm
tapi tak sesedih ibu.
Saat
sang dokter wanita yang di pangggil ayah tiba di kamarku, ia segera membongkar
alat tempurnya yang tersimpan rapi dalam tas kerja. Ia mengeluarkan jarum
suntik, lalu menakar campurannya. Setelah itu jarum suntik pun tertusuk di
tanganku. Meski sakit, aku tidak memberontak. Tapi ada semacam perasaan yang
membuatku mengantuk setelahnya.
Hari
telah pagi dan matahari mulai menyengatkan panasnya ke muka bumi. Bila dilihat
dari frekuensi pemunculannya, sepertinya hari ini sekitar pukul 7.
Aku
berada di luar rumah. Tak lama kusadari rumahku telah diramaikan oleh
orang-orang yang jumlahnya tidak sedikit. Kebanyakan diantaranya adalah keluarga,
kerabat dan para tetangga. Aku heran, ada hajat apa di rumahku? Perasaan
orangtuaku tidak pernah menyinggung kalau dalam waktu dekat ini ada sesuatu
yang akan dirayakan.
Tapi
aku tak mau beerpusing-pusing ria memikirkan apa yang tidak kuketahui. Siapa tahu
ini kejutan untukku. Lalu aku berjalan-jalan di sekitar rumah. Kebanyakan dari
mereka telah disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Ada yang memasang
tratak, menata kursi dan meja untuk para tamu, memasak makanan, juga ada yang
menyiapkan air berisi bunga-bunga. Kalau tidak salah, ini pasti hajat
perkawinan. Tapi masalahnya siapa yang mau menikah? Kalau aku jelas tidak
mungkin, tapi kakak? Setahuku ia tak pernah serius menjalin hubungan.
Sebelum
aku tambah bingung, aku mendengar rintihan tangis orang-orang. Awalnya pelan
tapi lama kelamaan makin keras. Dan aku makin bingung kala melihat batu nisan,
payung dan tempat pembawa orang mati. Di daerahku jika ada orang mati memang
jarang mengibarkan bendera kuning, sehingga aku baru bisa menyimpulkan kalau di
rumahku tidak sedang menggelar hajat, tetapi hendak melayat orang mati.
Seapa
yang mati? Kenapa aku tidak tahu? Ini rumahku, berarti salah seorang anggota
keluargaku ada yang berpulang di sisi tuhan. Sontak, air matapun segera menetes
dari kedua pelupuk mata. Secepat mungkin aku mencoba berlari ke dalam rumah
untuk mencari tahu hal yang tidak kuketahui ini, seraya berharap bahwa semua
anggota keluargaku dalam keadaan baik.
Di
ruang tamu aku melihat sesosok mayat yang tengah berbaring dengan berselimutkan
kain, sehingga aku tak bisa mengenalinya. Disana ada kakakku yang mengenakan
mukena berwarna hitam. Matanya sembap, mungkin karena terlalu banyak menangis.
Ia hanya duduk diam seolah sangat terpukul atas kepergian sesosok mayat
misterius itu.
Kemudian
dari dalam ibuku keluar dengan ditemani oleh kedua tanteku. Ia berteriak-teriak
histeris seakan tak bisa menerima apa yang telah digariskan oleh tuhan. Hal ini
membuat kedua tanteku kelabakan akan ulahnya. Hingga akhirnya ibu pingsan. Aku
pikir ini bukan pertama kalinya ia pingsan. Aku miris sekali melihatnya. Kenapa
disaat seperti ini aku malah tak tahu apa-apa? Segera aku menutup mulut dan
menangis seorang diri.
Tak
lama aku pun tersadar, kalau kakak dan ibuku masih hidup, berarti ayahku?. Aku
panik. Segera kulangkahkan kaki keluar dari rumah untuk mencari ayah, besar
harapan aku bisa menemukannya. Dan doaku dikabulkan oleh tuhan. Meski dari
kejauhan, aku melihat ayah tengah membantu pemasang tratak, matanya tampak
sembap. Namun hal ini membuatku tersenyum. Aku segera mengusap air mata yang
jatuh membasahi pipi.
Aku
lega mengetahui bahwa bukan keluargaku yang dipanggil sang mahakuasa. Mungkin
salah satu anggota keluarga besarku. Rumah kita memang berdekatan, sehingga
bisa saja mereka meletakkan mayatnya di rumahku. Tapi aku tak bisa
bersenang-senang ria, biar bagaimana ada keluargaku yang meninggal. Aku harus
masuk ke dalam untuk memastikannya.
Saat
perjalanan masuk ke rumah aku tak sengaja melihat seseorang yang membuka
bungkusan batu nisan. Dan aku segera menghentikan langkah begitu mengetahui
namaku terpampang disana. Lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal kematian.
Aku tak percaya, tanggal kematianku hari kematin. Tanpa kuperintah, otakku
segera memutar memori kejadian yang terjadi sehari yang lalu. Hal terakhir yang
kuingat adalah aku tak sadarkan diri setelah sebuah jarum suntik tertusuk di
tangan kananku.
Aku
menggeleng-gelengkan kepala mengungkapkan ketidakpercayaanku. Aku tak bisa
menangis, tak bisa mengucapkan sepatah katapun, semua yang ada dalam diriku
seolah berhenti. Aku bahkan tak bisa merasakan detakan jantungku. Tapi
sedikitpun aku tak sudi menanyakan pada otak apakah aku sudah mati atau tidak.
Dan entah untuk berapa lama aku terdiam bagai patung.
Kalau
bisa aku ingin menghilang dari semua ini. Aku tak peduli sudah mati atau tidak.
Setidaknya itu masih lebih baik daripada berada di rumah dukaku sendiri.
Mungkin aku tak akan sanggup. Hingga tanpa terasa, tetesan demi tetesan air
mata membanjiri wajahku.
Tapi
aku tidak mau menyerah begitu saja. Aku yakin aku belum mati. Bahkan aku merasa
sekarang telah sehat dan sembuh dari sakita yang kuderita. Oleh karenanya aku
memberanikan diri bertanya pada tetangga yang berlalu lalang di sekitar rumah.
“e…tante,
siapa yang mati?” tanyaku pada tetangga.
Namun
itu percuma. Orang yang kutanya terus saja berjalan tanpa sempat menoleh
kearahku. Ia bahkan bisa menembus tanganku. Aku sedih, tak percaya dengan hal
yang barusan terjadi. Tapi aku tetap berusaha menanyakannya pada orang lain.
Dan yang terjadi adalah sama, tak peduli ia tetangga, keluarga atau orang yang
tak kukenal, mereka semua mengabaikanku seolah aku tak ada disana.
Akhirnya
aku pun menyerah. Lalu aku menjauh dari kerumunan itu. Aku duduk di teras
tetanggaku. Aku menangis tersedu-sedu disana. Namun tak ada yang memerdulikan.
Mereeka semua sibuk dengan apa yang dikejakan. Ini sungguh tak adil. Kenapa
tuhan menginginkanku kembali sekarang? Kalau engkau memang sayang padaku,
setidaknya beri aku kesempatan untuk sekedar membalas jasa kedua orangtua yang
selama ini telah bersusah payah membesarkan anak manja sepertiku. Kenapa engkau
lakukan ini padaku, tuhan? Aku sangat menyayangi keluargaku. Aku tidak ingin
melihat mereka menangis seperti ini, terlebih ibuku.
Sekitar
pukul 8, rombongan teman-teman sekolah tiba di rumah. Hal ini membuat aku yang
terbaring dalam balutan tangis di atas teras menjadi terbangun. Aku menghapus
air mata yang mulai mengering di pipi. Aku ingin menyambut mereka, setidaknya
ini adalah penghormatan terakhirku untuk mereka. Lalu aku berjalan dengan
langkah lemas menuju rumah.
Seluruh
teman sekelasku tak ada yang absen melawat kepergian jasadku. Selain itu anak
osis, pembina osis, wali kelas dan guru jurusan Administrasi Perkantoran pun
turut serta menampakkan dirinya disini. Aku melihat banyak diantar mereka yang
sudah tak kuasa membendung air mata, itu juga termasuk para guru jurusan. Bisa
dibilang aku dekat dengan beberapa guru jurusan. Ini membuatku ingin menangis.
Tapi apa daya, air mata yang kumiliki sudah kuhabiskan tadi. Andai aku bisa
berbicara dengan mereka, aku ingin meminta agar mereka berhenti menangisiku
lagi.
Aku
sadar kematian akan mengampiri setiap orang. Tapi ini adalah kematianku. Jadi
biarkan aku saja yang menangisinya. Toh sekeras apapun ditangisi, aku tak akan
kembali. Justru tangisan itu membuatku makin sedih dan berat meninggalkan duni
ini. Tolong lepakanlah kepergianku dengan ikhlas, lalu tersenyum bahagialah
agar aku turut bahagia bersama kalian.
Beberapa
teman sekelasku bahkan ada yang histeris sehingga memaksa guru untuk
menenangkan. Barulah saat air mineral masuk ke dalam tubuh, teman-teman yang
tadinya histeris bisa sedikit tenang. Aku juga melihat perwakilan sekolah
memberikan seserahan berupa sembako dan sejumlah uang yang tersimpan di amplop
kepada perwakilan keluarga.
Aku
juga baru tahu kalau sudah banyak orang yang datang melayat. Tak lupa mereka
memberikan seserahan ala kadarnya sebagai bentuk bela sungkawa. Ini
mengingatkanku kepada kematian kakek setahun lalu. Tapi saat itu aku masih bisa
membantu menampung seserahan para tetangga.
Tak
lama, tubuhku yang telah terbujur kaku dikeluarkan dari rumah untuk dimandikan.
Ternyata aku juga baru tahu kalau ada seorang ustadz (kalau ditempatku disebut
modin) yang telah siap memimpin semua prosesi yang diperlukan dalam rangka
memperlakukan mayat.
Disana
kakak dan anggota keluarga yang lain telah siap memandikan jasadku untuk yang
terakhir kali. Tak tampak ibu membanru. Mungkin ia masih terpukul akan
kepergian yang tiba-tiba ini. Ibuku saja masih tak percaya, bagaimana denganku?
Aku benar-benar bingung dalam keadaan seperti ini.
Sungguh,
aku tak sanggup melihat jasadku sendiri. Aku juga tak akan mampu melihat
bagaimana terpukulnya ibu. Dan ketika aku mengahampiri teman-teman, mereka pun
menangis. Aku bingung, aku harus kemana? Kenapa dimana-mana ada air mata? Aku
benar-benar tidak ingin melihatnya. Aku mohon tersenyumlah, karena hanya yang
kuinginkan dari kalian.
Akupun
tak punya pilihan selain kembali mampir ke teras tetangga. Karena meskipun
disana tak ada yang memerdulikan, tapi yang penting tidak ada tangisan. Toh aku
sudah mati, jadi kemanapun melangkah, tak akan ada yang peduli.
Beberapa
saat kemudian, aku melihat tubuhku diangkat kembali ke dalam rumah. Setelahnya
adalah proses pengkafanan. Aku tak mau kesana dan melihat tangisan pecah dari
orang-orang yang kusayang. Aku mungkin belum di neraka, tetapi tangisan mereka
merupakan penyiksaan terbesar yang pernah kualami selama ini. Tuhan, kalau kau
ingin mengambilku, maka ambillah dan jangan tempatkan aku pada situasi seperti
ini.
Kemudian
sang ustadz keluar dari rumah. Sementara para tamu sudah mulai tampak memadati
rumahku. Sehingga acara lawatan secara keagamaan pun dimulai. Andai ada headset
atau mp3, aku ingin menyalakannya untuk sejenak melupakan apa yang terjadi. Telingaku
menolak mendengarkan kalimat-kalimat suci yang akan menggitingku ke tempat
perisirahatan terakhir. Namun aku bukan penyandang tuna rungu, sehingga mau tak
mau aku harus mendengarkannya.
Acara
demi acara pun berlalu hingga akhirnya tibalah pada saat dimana jasadku harus
meninggalkan rumah untuk selama-lamanya. Bisa kutebak selanjutnya tangisan pun
pecah sudah, baik itu dari keluarga, sanak famili, kerabat, tetangga maupun
teman sekolah. Sementara itu ibu telah pingsan terlebih dahulu sebelum sempat mengantarkanku
untuk terakhir kalinya.
Setelah
ini jasadku akan di sholati, barulah setelahnya tiba pada prosesi terakhir,
yakni penguburan. Tak sedikitpun terbesit niat untukku menyaksikan prosesi itu.
Begitu pula dengan ayah dan kakak. Oh ya, mereka juga sempat menangisi
kepergianku dari rumah ini untuk selamanya.itu wajar, air mataku yang tadi
menghilang kini pun kembali membasahi wajah.
Maafkan
aku, aku belum bisa membuat kalian bangga atas kehadiranku. Ayah, ibu, maaf
karena belum bisa mewujudkan impian kalian. Maaf karena sering menyusahkan.
Maaf karena tak ada yang bisa kuberi atas kebaikan yang telah kalian semua
lakukan. Dan maaf karena harus pergi duluan. Maaf atas semua air mata yang
tumpah untuk menangisi kepergianku. Maafkan aku.
Sore
harinya masih banyak pelayat yang berbondong-bondong hadir ke rumah. Tentunya
mereka tetap setia mengutarakan bela sungkawanya. Dan untunglah sekarang tangis
senantiasa berkurang dari rumah ini. Kakak dan ayah terlihat membantu segala
tetek bengek kematianku ini. Sementara ibu sudah mulai menguasai diri sekalipun
matanya tak pernah lelah mengeluarkan tetes demi tetes air mata.
Selain
para tetangga dan sanak saudara, rumahku juga dikunjungi oleh tamu-tamuk.
Mereka adalah alumni teman SD dan SMP, juga diantaranya sahabat-sahabatku yang
belakangan ini hubungan kita merenggang. Aku menyesal mengapa kisah
persahabatan kita belum baik ketika aku menghembuskan napas untuk yang terakhir
kalinya.
Aku
melihat ada kesedihan mendalam yang tampak dari paras masing-masing temanku. Maklumlah,
kebanyakan dari mereka adalah orang yang dekat denganku. Mereka tak menyangka
aku berpulang di usia semuda ini. Mereka juga sempat menyinggung-nyinggung
kebaikan yang kuperbuat di dunia ini. Aku tersenyum mendengarnya. Ternyata
mereka peduli terhadapku atau setidaknya ada sesuatu yang diingat tentangku.
Karena aku tak ingin menjadi orang yang dikenala lalu dilupakan. Aku harap
semoga memori tentangku senantiasa abadi. Andai saja ada yang membuatkan
biografi bayangan, aku pasti akan lebih bahagia.
Dengan
ini aku menyatakan untuk menjauh dari rumah duka. Setidaknya aku sudah melihat
senyuman di rumah ini. Mungkin aku pernah mendengar bahwa orang mati akan
tinggal di rumahnya dulu selama 40 hari. Tapi sebodo amet, itu pengecualian
untukku.
Kuakui
aku sangat menyayangi keluarga, sanak famili, kerabat, tetangga dan tentunya
teman-temanku. Tapi jika aku masih tinggal disana selama 40 hari, batinku akan
tersiksa. Rasanya mau mati tapi tak bisa, secara aku kan sudah mati. Aku
sendiri juga tak tahu apakah keputusan yang kuambil ini tepat, aku masih
bingung, ini hal pertama yang kualami.
Mungkin
juga aku belum sepa menerima kekpergianku. Tapi apa yang bisa kuperbuat, ini
adalah takdir yang telah tuhan catat semenjak aku berusia 4 bulan di kandungan
ibu. Aku harus berbesar hati menerimanya, karena hanya itulah yang bisa
kulakukan untuk membuatku tidak sedih lagi. Sebenarnya aku juga takut, aku
sendirian. Entah apa yang terjadi nanti. Aku belum sempat memikirkannya karena
terlalu sebuk menangisi kematianku.
Aku
melangkah tanpa tahu akan kemana. Aku berjalan seraya memikirkan hal yang bisa
kupikirkan kebanyakan adalah penyesalan yang belum sempat kuperbuat selama
hidup. Sejujurnya aku adalah orang yang mempunyai semangat tinggi dan
menggebu-gebu. Ini membuatku makin menyesal sebab masih banyak urusan duniawi
yang belum kuraih. Kembali aku pun bersedih dan ujung-ujungnya keluarlah air
dari pelupuk mata.
“bodoh,
siapa bilang aku siap? Aku tak mau mati sekarang. Tuhan katanya kau sayang
padaku, tapi mana? Kenapa kau mengambilku sekarang? Apa salahku? Kau senang
melihat semua orang yang kusayangi menangis?” protesku dalam tangis.
Setelahnya
aku tertunduk di jalanan dimana air mataku tanpa henti membanjiri wajah.
Sementara orang-orang berlalu lalang melewatiku. Aku tak peduli, tak ada yang
kupedulikan saat ini.
“tuhan,
aku tahu aku bukan hambamu yang baik. Tapi tuhan, aku mohon dengarkanlah
permintaan kecilku ini. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk menjadi hambamu,
agar aku bisa membalas jasa orang-orang yang kusayangi. Hanya untuk orang yang
kusayangi..ijinkan aku hidup kembali…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar