Jumat, 11 Mei 2012

Sepatu LEM BIRU




Jum’at, 27 November 2009
            Itu adalah saat dimana kaum muslimin merayakan Hari Raya Idul Adha. Sementara ini adalah kali pertama bagiku merayakan hari raya kurban di sekolah. Kami – seluruh warga SMP 5 Kudus diharuskan menjalankan ibadah shalat Id serta pembagian binatang kurban di sekolah.
            Shalatnya sendiri di lakukan sekitar pukul enam pagi. Sementara pembagian hewan kurbannya di adakan saat mendekati siang. Sehingga kami di perbolehkan pulang dahulu setelah shalat Id.
            Barulah sekitar pukul 11.00 siang, aku berangkat kembali ke sekolah dengan di antar oleh ayah. Sebenarnya aku malas untuk datang kembali ke sekolah. Pasalnya kala itu, aku tengah melakukan rutinitas Idul Adha, yakni membuat hidangan khas hari raya kurban. Sungguh itu adalah hal yang menyenangkan.
            Tapi aku tetap berangkat ke sekolah. Setelah kupikir-pikir, lumayan juga bisa mendapatkan daging tambahan, hitung-hitung untuk dijadikan sate.
            Namun ada yang terlupa. Sepatu cantik kesayanganku yang sudah kupakai kurang lebih satu tahun lamanya ini sudah harus di LEM BIRU (lempar beli yang baru). Tapi aku tak begitu memerdulikannya, sebab aku terlalu sayang dengan sepatu ini. Terserah orang mau bilang sepatu KW 3 atau bahkan sepatu ini mulai kekecilan untukku. Yang aku tahu sepatu ini modelnya cantik dan aku menyukainya.
            Dan ketika motor yang membawa ayah dan aku tiba di sekolah, tiba-tiba sepatu yang kukenakan lemnya mengelupas. Lalu bagian bawahnya mulai terlepas dengan bagian atasnya. Astaga, apa aku harus nyeker ke sekolah?
            Aku kesal, kesal sekali. Sepatu kesayangan yang selama ini kupakai kemanapun kaki ini melangkah harus ku tinggalkan begitu saja disini. Sebenarnya ingin ku pungut dan ku bawa pulang saking sayangnya aku pada sepatuku. Tapi keadaannya tidak memungkinkan. Saat itu sudah banyak anak yang dating. Dan biarpun mereka tak terlalu memerhatikan, tetap saja aku malu.
            Aku ingin pulang. Namun ayah menawariku alternative lain. Ia meminjamkan sandal jepit miliknya untukku. Baiklah, dengan langkah percaya diri, aku pun buru-buru masuk ke dalam kelas. Alhasil tak banyak orang yang mengira jika saat itu aku sedang memakai sandal jepit. Setidaknya kadar maluku sedikit berkurang.